We are just an illusion. Aren't we?

Minggu, 17 April 2016
Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Apakah ini disebabkan oleh terlalu padatnya aktivitas saya atau karena sudah kehabisan bahan untuk dibicarakan? entahlah.. 
Tapi pada kesempatan ini saya ingin menuliskan kegundahan hati saya tentang hakikat eksistensi manusia, tumbuhan, hewan & lainnya di dunia ini. Jadi kegundahan ini awalnya muncul ketika saya mengikuti sebuah diskusi rutinan setiap bulan pada minggu kedua yang diadakan oleh Majelis Masyarakat Maiyah dalam acara Juguran Syafaat.
Oleh-oleh dari malam mingguan bersama rekan-rekan di Juguran Syafaat kemarin (Sabtu, 16 April 2016) yang mengangkat tema "Melancong Ke Masa Lalu", secara otomatis perbincangannya banyak membahas soal "waktu". Saya berasumsi bahwa "waktu" adalah "kenangan". Sebab ada yang mengatakan bahwa waktu adalah rentang / interval dari aktivitas pertama menuju aktivitas yang kedua hingga seterusnya. Nah, rentangnya itulah yang kita sebut sebagai waktu. Contoh kongkritnya seperti ini; saat kita berdiri, kemudian berjalan tiga langkah, hingga berada di depan cermin. Rentang / interval dari kita berdiri, melangkah, hingga sampai di depan cermin itulah yang dinamakan waktu.

Kalau bicara soal waktu, kita pasti sering mengalami mimpi ketika tidur. Misalnya, mimpi seolah sudah menjalankan aktivitas selama sehari/dua hari/lebih. Padahal ketika bangun kita sadar bahwa mimpi kita hanya berdurasi 1 jam/2 jam/lebih. Berarti waktu dalam alam mimpi dan alam dunia itu beda ya? dalam Alqur'an saja dikatakan bahwa 1 hari di akhirat = 1000 hari di dunia. Jadi, waktu itu relatif. Ya kan?

Nah, jika kita ingin membicarakan hal yang sudah terjadi tadi atau kemarin atau beberapa minggu lalu, kita menyebutnya kenangan. Kenangan ada karena direkam oleh memori otak kita. Jadi, kalau kita hanya diam saja sejatinya apakah kita tidak punya waktu? kita tidak punya kenangan? Artinya waktu itu tidak ada jika satu benda itu diam. Bagaimana kalau semua benda/makhluk seisi dunia ini diam? tak ada waktu? atau.. waktunya hanya saat diam itu saja (tidak berjalan)? berarti apakah waktu itu sejatinya hanya -asumsi dari memori otak kita saja- yang kita ciptakan sendiri? Wah..
Barangkali fenomena De Javu yang sering banyak orang alami termasuk saya, hal itu hanyalah produk kenangan yang manusia ciptakan melalui memori otak manusia masing-masing. Barangkali..

Oke, di atas bicara soal waktu. Sekarang soal manusia, hewan, benda, fisik, materi. Masih ingatkah bahwa partikel terkecil pada zat adalah atom? tapi ada penemuan baru bahwa ada yg lebih kecil dr atom, yaitu quark. Sementara belum ada penemuan yang membuktikan partikel yang lebih kecil dari quark. Quark merupakan partikel yang bersifat bukan materi (non-material), melainkan hanya "ruang hampa" yang mengandung "energi bermuatan listrik".

Jadi, batu kecil jika kita hancurkan secara terus menerus akan menjadi debu yang berterbangan dan begitu halus. Sejatinya debu halus pun masih mengandung partikel yaitu atom, kemudian atom mengandung quark, dan quark hanyalah ruang hampa yg mengandung energi listrik (hidup lho). Begitu juga dangan manusia, kita! kita sejatinya tidak lain seperti batu apabila tubuh kita digali lebih dalam maka akan mengandung atom, kemudian quark, yang hanyalah berisi "ruangan hampa" mengandung "energi listrik". Jadi baik manusia, hewan, tumbuhan, batu, dinding, meja, kursi, hakikatnya mereka semuanya hidup. Mereka semua memiliki energi. Subhanallah..

Hal-hal yang membuat kita memiliki kekuatan, keceriaan, kebahagiaan, emosional, bukanlah karena "fisik" kita, melainkan karena "energi" yang tak terlihat dalam diri kita. Dalam kata lain, dalam diri manusia ada "ruh". Ruh inilah yang membuat manusia bisa hidup. Ketika ruh sudah diambil, maka kita dinyatakan "mati", sekalipun jasad masih ada. lalu, apakah bumi, alam semesta dan seisinya (termasuk manusia) sejatinya hanyalah "ruang hampa" yang mengandung "energi" saja? berarti apakah fisik/materi pada hakikatnya tidak ada? apakah semua yang ada di dunia ini hakikatnya hanyalah ilusi??? ilusi yang sengaja Tuhan ciptakan melalui memori otak manusia? 

Berbicara soal Tuhan, yang mana Dia adalah "dzat" yang Maha Lembut (Lathif). Kita tahu bahwa jarak Tuhan begitu dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari urat nadi. Sementara Tuhan tidak terlihat. Apakah eksistensi Tuhan bisa dikatakan sama dengan eksistensi "energi" atau "ruh" yang melekat pada setiap diri manusia, tumbuhan, dan makhluk lainnya? hanya saja kekuatan energi dalam dzat Tuhan jauh berbeda? Jangan-jangan Tuhan (Allah) sebenarnya juga ruh? Dan... apakah jangan-jangan semua yang ada pada kehidupan ini hakikatnya hanyalah ruh?

Apakah waktu dan segala fisik/materi di dunia ini hanyalah ilusi yang hanya kita ciptakan melalui memori otak kita saja??? berarti kita semua itu pada hakikatnya "tidak ada" dong? waktu tidak ada dong? hanya percikan-percikan "energi saja"?
Lalu surga dan neraka yang katanya nyata & akan kita ketahui ketika kita sudah meninggal (berarti kan bicara masa depan), jangan-jangan itu semua sebetulnya.. ahh.. saya takut untuk meneruskan.
Ngeri. Sungguh.
We are nothing.. we are just an illusion.. aren't we??? :(
Read more >> Read More..

Memetik Filosofi Kehidupan di Balik Cerita "My Travelling to Trang Thailand"

Minggu, 15 Maret 2015


Thailand, 14 Maret 2015

Segala puji hanya bagi-Mu Tuhan Sang Pemilik jagad semesta ini, yang masih bersedia memberikan nafas hingga detik ini, sehingga saya masih bisa melanjutkan catatan kecil ini. 

Alhamdulillah, dua hari yang lalu, tanggal 12-13 Maret 2015 saya bersama segenap keluarga besar Vityasil School telah melangsungkan rihlah ke Trang Thailand. Ini merupakan program tahunan yang biasanya dilaksanakan pihak sekolah setelah ujian akhir sekolah. Jadi bisa dikatakan program ini diadakan sekedar untuk me-refresh  tubuh, hati, jiwa, dan fikiran siswa-siswi setelah di pusingkan oleh ujian akhir sekolah. Tidak hanya untuk siswa-siswinya saja, tetapi juga untuk guru-gurunya, termasuk saya selaku guru latih dari Indonesia.

Namun, ini bukan acara refreshing yang ke-pertama kalinya untuk saya, selama di sini saya sudah diajak berkeliling ke beberapa tempat terkenal di Thailand, diantaranya ; ke Taman Bunga di Betong.


 Taman Bunga Betong
Lalu, ke Hatyai –kotanya orang berduit. Tapi bukan berarti saya jalan-jalan ke sana karena saya berduit, bukan. Saya ke Hatyai tidak membawa duit, tapi orang-orang berduit di sekeliling saya lah yang bersedia membawa saya jalan-jalan ke sana. Terimakasih kak Tuan Risa, bang Ahmar dan kak Ruwaida, mereka adalah kawan-kawan sesama pengajar di Vityasil School yang sudah mengajak saya dan kawan saya keliling kota Hatyai. Sangat menyenangkan.






Central Festival Hall Hatyai

Lalu, ke Phuket. Siapa yang tidak mengenal Phuket? Saya rasa hampir semua orang di dunia mengenalnya. Ya, Phuket adalah nama sebuah kota di Thailand yang terkenal dengan keindahan pantainya. Kalau saya boleh membandingkan dengan Indonesia, kota Phuket itu seperti kota Bali, yang banyak dikunjungi oleh turis-turis atau orang-orang bule. Tapi, sekilas saya rasakan euforia suasana malam di jalanan menuju pantai Phuket juga hampir sama seperti di jalanan menuju Batu Night Spectaculer Malang, karena saya pernah rihlah ke Malang, jadi saya bisa merasakan suasananya. Sesampainya di Phuket, saya bersama rombongan langsung menuju ke sebuah tempat tenggelamnya matahari yang paling terkenal di Phuket. Ramai sekali di sana. Banyak orang berbondong-bondong menuju ke sana demi menyaksikan matahari tenggelam/terbenam. Nah, kalian tahu, sesampainya di sana, tepatnya di sebuah bukit di atas pantai, saya langsung teringat dengan sebuah pantai di Kebumen, namanya pantai "Menganti". Dimana pantai Menganti juga berada di sekitar bukit-bukit, sekilas air lautnya seperti berada di atas bukit. Begitu juga dengan pantai Phuket yang saya kunjungi, hampir sama seperti panorama pantai Menganti. Hehe..

 Tempat tenggelamnya matahari di Phuket
Di Phuket terdapat banyak pantai, ada pantai Phuket, pantai Patong. Nah Patong ini juga sempat saya kunjungi. Kebetulan hotel yang saya dan rombongan gunakan untuk bermalam juga lokasinya berada di depan pantai Patong. Menyenangkan sekali suasananya. Jadi, di depan hotel kami ada jalan raya, lalu di tepi jalan raya ada pantai Patong –pantai yang berada di tengah kota.

 Bamboo Beach Hotel


 Pantai Patong
Lalu ada pantai Krabi. Di sini sangat luar biasa sekali pantainya. Benar-benar biru! Benar-benar jernih! Bukan rekayasa, bukan editan. Subhanallah.. saya bersama rombongan menghabiskan waktu di pantai ini dengan menaiki kapal, sembari menikmati panorama yang indah sekali; lautan biru yang dikelilingi banyak bukit yang menjulang tinggi dan bebatuan karang, lalu kami berenang dengan mengenakan pelampung, kemudian menyelam mengintip indahnya dunia di dasar lautan, menyenangkan sekali.




Pantai Krabi

Lalu yang baru kemarin saya lalui adalah pergi ke Pantai Trang. Ini juga tidak kalah luar biasanya dengan Krabi. Sebetulnya tingkat kejernihan airnya lebih jernih di Krabi, tapi lebih mengasyikkan di Trang. Mengapa? Jawabannya, karena saat ke Trang kuantitas rombongan yang pergi rihlah jauh lebih banyak dari sebelumnya. Jika sebelumnya saya hanya jalan-jalan dengan sebagian guru-guru saja, tapi kemarin di Trang, saya jalan-jalan bersama seluruh siswa/i dan sebagian guru Vityasil School . Alhamdulillah pihak sekolah bisa menyewa dua bus besar (kalau di Indonesia di sebut Bus Patas (Cepat Terbatas)) untuk menampung 100 penumpang lebih. Tahukah, bus di sini bagus, ada dua tingkat. Di Indonesia, saya belum pernah menaiki bus bertingkat seperti di sini, jadi Alhamdulillah ini my first experience menaiki bus bertingkat, apalagi saya dan beberapa guru yang lain di tempatkan di seat yang VIP, dengan sofa yang "empuk" juga ruangannya ber-AC. Sepanjang perjalanan selama 5 jam, saya hanya tidur saja, saking nyamannya di ruangan itu. Sungguh luar biasa orang-orang di sini. Mereka sangat baik. 

Sesampainya di pantai Trang, sekitar pukul 08.00, saya bersama rombongan langsung sarapan di tepi pantai, sebelum pada akhirnya kami melanjutkan perjalanan air dengan kapal Feri. Pihak sekolah menyewa dua kapal Feri, satu kapal untuk menampung rombongan siswi dan guru-guru perempuan, satu kapal lagi untuk menampung rombongan siswa dan guru-guru laki-laki.
Ada sebuah kejadian kecil yang terjadi ketika kami berada di atas kapal. Saat kapal kami sedang melaju ke tengah lautan, kapal yang dinaiki kami rombongan perempuan, tidak bisa melaju selama kurang lebih lima menit, disebabkan oleh jarak antara kapal dan pasir begitu dekat. Kami sempat sedikit khawatir, tetapi untungnya sang nahkoda bersama bawahan-bawahannya sangat atraktif dalam mengatasi resiko yang akan terjadi. Bagaimanakah mereka mengatasinya? Jawabannya, dengan meminta pertolongan kepada kapal yang dinaiki rombongan laki-laki. Jadi, kapal kami dihubungkan dengan kapal rombongan laki-laki dengan sebuah tali tambang yang kuat, ketika kapal rombongan laki-laki melaju, maka kapal kami pun turut melaju karena tertarik oleh kapal rombongan laki-laki. Alhamdulillah dengan usaha keras sang nahkoda dan bawahan-bawahannya, kapal kami pun bisa melaju dengan normal kembali di atas permukaan air laut.

 Saat kapal kami tertolong oleh kapal yang lain

Nah, ada hikmah kehidupan yang saya petik dari kejadian kecil tadi. Lautan yang luas adalah simbol kehidupan manusia. Saat kita melihat lautan, pasti pandangan kita tidak lepas dari adanya debur ombak. Begitulah kehidupan. Hidup kita tidak selamanya berada dalam zona nyaman dan aman. Dalam hidup, pasti kita akan menemui ombak kehidupan atau masalah. Kejadian tadi, dimana kapal yang dinaiki saya dan rombongan perempuan lainnya tidak bisa melaju selama lima menit karena tersendat oleh pasir, lalu di tolong oleh kapal yang dinaiki oleh rombongan laki-laki, sampai pada akhirnya bisa melaju normal kembali, itu menyadarkan saya akan sebuah filosofi kehidupan. Dimana kita hidup, pasti membutuhkan yang lainnya, tidak mungkin kita bisa hidup sendiri tanpa membutuhkan lainnya. Apalagi saat kita berada dalam masalah, dengan meminta bantuan orang lain di sekiling kita, itu akan sedikit mengurangi beban masalah yang ada.

Kemudian, kami sampai di sebuah tempat penyelaman. Di sana semua rombongan harus turun dari kapal dan mengenakan pelampung. Kami semua harus berenang dengan di dampingi seorang guider, kami diajak berenang dan memasuki sebuah gua yang terletak di tengah permukaan air laut. Di dalam sana sangat gelap dan ramai orang datang dari negara mana saja. Saat berenang memasuki gua, kami diminta untuk memegang bahu kawan di depan kami, tidak boleh lepas, karena jika ada yang melepaskan pegangan dari bahu kawannya, maka bisa terlepas dari rombongan, itu berbahaya, apalagi bagi yang tidak bisa berenang. Guider juga menghimbau kepada kami agar barisan rombogan kami untuk tetap berada pada tali tambang warna putih yang sudah disediakan. (Tali tersebut bertujuan untuk membedakan barisan rombongan yang satu dengan yang lain)

Nah, ada hikmah kehidupan yang saya petik dari pengalaman itu, dimana dalam hidup kita punya jalan masing-masing, maka berjalanlah di atas jalan kita, tanpa harus mencampuri kehidupan orang lain atau kita akan kehilangan jati diri kita yang sebenarnya. Itu membahayakan.

Lalu saat guider meminta kami untuk saling memegang bahu kawan di depan, itu artinya dalam hidup kita harus saling bahu membahu, jangan pernah lepas. Kita harus respect each other. Dalam hidup, kita harus mengenal tolong menolong dengan sesama, dengan begitu saat akan mendapati bahaya hidup, maka kemungkinan resiko yang terjadi akan sedikit terminimalisir.

Gua Tamarkot di Pantai Trang

Ada beberapa dari kami yang takut berenang, bahkan adanya pelampung yang sudah cukup membantu, masih saja membuat beberapa di antar kami yang takut berenang. Saya membujuk beberapa dari siswi yang enggan berenang, "Hei, ayo turun...! buat apa kalian jauh-jauh datang kemari jika hanya duduk di atas kapal dan tidak merasakan asyiknya berada di atas air? Percuma lho...", kemudian beberapa dari mereka mencoba turun ke permukaan air dengan ekspresi ketakutan. Saya membujuk untuk tetap merasa tenang sekalipun takut. Karena saya pernah merasa ketakutan seperti itu pada awalnya, jadi saya mengerti bagaimana rasanya. Lalu saya raih tangan salah satu siswi saya, namanya Anisan. Umurnya 14 tahun. Dia mencoba mengalahkan rasa takutnya berada di atas air, tapi saya memintanya untuk tetap tenang dan tenang. Karena ketenangan akan menghindarkan kita dari bahaya yang akan terjadi. Ketika sudah tenang dan rileks, saya mengajak dia berenang ke tempat yang sedikit jauh dari kapal, dengan cara terus menggerak-gerakkan kaki dan tangannya di dalam air. Wal hasil.. dia sangat menikmati kenikmatan berada di atas permukaan air laut yang biru. Bahkan tanpa memegang tangan saya pun dia berani bersenang-senang sendiri di atas air. 

Pengalaman Anisan dalam melawan rasa takutnya berenang di atas air, itu mengajarkan kita bahwa rasa takut itu memang manusiawi. Tapi kita bisa me-manage rasa takut itu supaya menuju ke arah yang lebih positif. Caranya? Yang pertama, tetap tenang walaupun sebetulnya kita khawatir. Ingat ketenangan itu penting saat kita berada pada posisi yang membahayakan. Jika kedaan sudah membahayakan, kok malah kita gusar dan gaduh, maka bahaya akan datang juga akhirnya. Kedua, yakin. Yakin bahwa kita bisa. Kita bisa jika kita mau mencobanya. "We can, if we try, we can!". Ketiga, tetaplah mengingat Tuhan kita. Hidup kita ini milik-Nya. Nafas ini milik-Nya. So, serahkan saja apa yang akan terjadi nanti pada-Nya.

 Anisan, 14 tahun (baju merah muda)

Selanjutnya, saat saya berenang di dalam gua, saya bertemu rombongan manusia dari berbagai kalangan suku, ras, agama, budaya. Saya bertemu orang-orang bule yang wanitanya hanya memakai bikini, dan yang laki-laki hanya memakai celana kolor warna hitam, mereka tinggi-tinggi, besar-besar, pokoknya seksi-seksi sekali. Saya tersenyum kepada salah seorang lelaki di antara mereka, dia pun membalas senyum saya. Saya tanya "where are you come from...?" dia menjawab "I from Maroko...! so you...?" ekspresif sekali cara menjawabnya, saya pun menjawab "I from Indonesia mister...!", dia membalas lagi "Oh Indonesia... good.. good..!!!". Entah apa maksud kata "good" yang dikatakannya. Lalu, beberapa dari mereka berteriak "assalamu'alaikum...!" karena melihat kami semua mengenakan kerudung. Kami pun menjawab "wa'alaikumsalam...!".

Indahnya hidup ini, jika saling menyapa satu sama lain. Bagi saya, perbedaan agama, suku, ras, budaya, bahasa, warna, bendera, dan apapun itu, bukanlah hal yang dijadikan sekat-sekat dalam bersosial. Oke, kita memang berkerudung, dan mereka telanjang. Bagi saya tidak masalah kita saling menyapa, bahkan saat mereka mengucapkan salam kepada kita, kita pun tidak masalah jika menjawabnya. Bersosial wajib untuk siapa saja dan dengan siapa saja yang menginginkan perdamaian dunia, bukan perselisihan.

Melihat bebatuan karang yang kekar dan kokoh, lagi-lagi membuat saya ingin memetik sebuah filosofi kehidupan. Kalian pernah melihat bebatuan karang yang berada di tepi-tepi lautan? Walaupun sudah ribuan kali ombak menerjangnya, tapi ia tetap berdiri tegar dan kuat. Itulah yang seharusnya kita tiru. Meskipun ombak kehidupan terus memburu dan menghantam kita, kita harus tetap tegar dan kuat menghadapinya, dengan cara apa? dengan doa dan usaha yang terus berjalan bersisian saling bersinergi. Jangan pernah menyerah menghadapi kehidupan yang kejam. Jika menyerah, tidakkah kita malu pada bebatuan karang yang bertahun-tahun tetap berdiri tegar walau ribuan kali di terjang ombak??? Ingat, ada Tuhan sang pengendali kehidupan ini!




 Pantai Trang Thailand

Saya teringat sekali saat menyelam bersama rombongan, kami melihat keindahan di dasar lautan. Subhanalloh.. indah sekali. Tiada zat yang saya fikirkan dalam-dalam selain zat Sang Maha Pencipta jagad semesta ini. Dia Maha Kreatif, Maha Artistik, sehingga bisa menciptakan kehidupan di dasar lautan dengan sebegitu mempesonanya. Ada pasir yang begitu putih, air yang begitu jernih, rumput laut, bebatuan karang, ikan-ikan yang beraneka jenis dan ragam, dan makhluk-makhluk lainnya yang tampak tetapi saya tidak mengenal namanya. God, You Are Very Amazing...! 



Tidak perlu kita memikirkan Tuhan kita seperti apa, cukup menyaksikan kemegahan ciptaan-ciptaannya, itu sudah cukup membuktikan bagaimana Tuhan kita. 

Saya yakin masih banyak lagi filosofi kehidupan yang dapat kita petik dari semua yang kita saksikan, dari semua yang kita amati, dari semua yang kita rasakan dalam jagad semesta ini. Belajar tidak harus berlangsung di dalam ruangan saja (indoor), seperti di sekolah, di kampus, di auditorium, di laboratorium, dan lain-lainnya. Tetapi kita juga bisa belajar dimana saja dan kapan saja (outdoor), termasuk melalui alam semesta ini. Selama lima bulan di Thailand, saya memang memiliki banyak waktu untuk travelling, tetapi saya mencoba untuk tidak hanya memetik nilai hiburannya saja, sedikit demi sedkit saya mencoba memetik nilai-nilai kehidupan yang terselip dalam segala sesuatu yang saya lihat dan saya rasakan sendiri. Karena, Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia. Mulai dari sesuatu yang kelihatannya kecil dan sepele, hingga yang besar dan megah, semua ada hikmahnya, selalu ada pesan di dalamnya. Percayalah.
Read more >> Read More..

Tentang Mereka

Senin, 08 Desember 2014
Thailand, 7 Desember 2014

Alhamdulillah.. bisa menulis lagi, bisa berbagi cerita lagi lewat tulisan kecil ini. Sekarang sedang musim hujan di sini. Bagaimana dengan Indonesia? Rasanya sudah cukup rindu dengan Indonesia. Bagaimanapun juga, tempat yang paling nyaman adalah tempat tinggal sendiri. Sekalipun di sini nyaman, tapi tetap Indonesia yang paling nyaman sampai hati. Miss you, my Indoensia.. ^_^
Pattani, Thailand adalah wilayah yang mayoritas masyarakat di dalamnya beragama islam, mungkin jika dipresentasekan sekitar 99%  masyarakat di sini muslim. Kawan-kawanku di Indonesia banyak yang menanyakan "bagaimana keadaan islam di Pattani, Thailand?", jawabannya islam di sini sangat sunni. Menurutku rata-rata orang di sini pemahaman tentang islamnya sangat fundamental. Bagaimana tidak, coba simak di bawah.

Satu cerita, ketika kawanku sesama pengajar di sini menonton salah satu film Indonesia, dia melihat perempuan di film itu tak mengenakan jilbab, dia bertanya padaku, "itu yang perempuan orang islam kah?", aku jawab "iya kak", dia langsung heran, "kok orang islam nggak pakai jilbab?", aku jawab, "perempuan di Indonesia nggak pakai jilbab udah hal biasa kak, banyak yang pakai jilbab, banyak pula yang tak pakai", dia hanya pasang muka keheranan. Jadi, orang di sini (khususnya kawan-kawan sesama pengajar), mereka sangat heran jika melihat perempuan muslim tak mengenakan jilbab, yang mereka tahu yang namanya orang islam (khususnya perempuan) jika dirinya muslim, ya umumnya mengenakan jilbab atau kerudung. Ya, memang betul juga sih, jilbab memang menjadi identitas perempuan muslim, jadi ketika perempuan muslim tak memakai jilbab ya sama saja islamnya di pertanyakan, atau orang Indonesia bilang "islam KTP". Awalnya aku berfikir, sikap keheranan mereka itu adalah cibiran, tapi setelah aku amati dan aku rasakan, mereka bukan mencibir, tapi mereka memang benar-benar heran dan merasa tabu melihat perempuan muslim tak mengenakan jilbab, karena yang ku amati perempuan di Pattani ini hampir semuanya memakai jilbab, walaupun tidak semua jilbab orang sini berukuran maxi, ada pula yang mini seperti milikku. Hehehe..

Lain cerita, suatu hari aku bersama kawan-kawan sesama pengajar pergi ke mini market, semacam Alfa Mart, tapi namanya Seven Eleven. Nah, saat itu aku mau membeli sebuah roti isi coklat, salah seorang kawanku melarangku membeli roti itu, kenapa? Karena di bungkus roti itu tidak tertera tulisan "halal". Fiuh... it's oke.

Lalu, seperti yang sudah pernah ku tulis pada tulisan sebelumnya bahwa orang-orang di sini sangat senang jika mendengar orang menyanyi. Ya, suatu ketika aku pernah bercengkrama dengan kawan-kawan di sini seputar nyanyian. Di sela-sela percengkramaan, aku menanyakan, "di sini ada alat musik semacam gitar, organ, atau apa gitu?", mereka menjawab "tak ada, musik haram, Nisa". Sekalipun musiknya bukan musik rock, semacam musik melodi yang pelan, mendayu-ndayu pun tak boleh, mereka tetap bilang haram. Tapi kalau rebana, boleh. Mereka bilang, musik mengundang kemaksiatan. Lalu jika ada pementasan menyanyi atau Nasyid, bagaimana? mereka bilang hanya bernyanyi saja tanpa musik. What??? Hampa banget nggak sih guys..? iya kan? Ya, itulah kultur di sini. Ketahuilah. Hehe.. NO MUSIC NO CRY. Heu..heu... T_T

Pernah di suatu pagi, siswa-siswi berbaris di lapangan depan gedung sekolah, ini merupakan kegiatan rutin. Aku dan kawanku seperti biasa, kita memberikan kosakata bahasa Indonesia & inggris yang baru setiap paginya. Nah, pagi itu aku memang sengaja memakai parfum yang aku beli di Pattani. Begitu aku masuk ke barisan laki-laki, mereka spontan langsung menutup hidung mereka, beberapa di antara mereka mengatakan "ihh.. bau apa nih? pusing, pusing. ihh..", aku langsung mati gaya, kenapa ini? perasaan di Indonesia, orang memakai parfum sudah hal biasa, mengapa mereka bereaksi seperti itu? aduh..

Ternyata, orang-orang di sini di larang memakai parfum, khususnya untuk kaum perempuan, haram hukumnya memakai parfum, sedangkan lelaki sunat. Ya, baiklah, aku memahaminya. Sekarang aku tetap memakai parfum sebelum mengajar, tapi dengan takaran yang jauh lebih sedikit dari biasanya. 

Lalu, suatu ketika aku pernah menanyakan kepada kawanku di sini, dia pengajar sekaligus menjadi penjaga kedai, aku bertanya seperti ini, "kak, besok jual Milo ya, biar tiap hari aku bisa minum Milo...", aku fikir dia akan jawab Ya atau Oke, tapi malah jawabannya seperti ini, "Milo itu haram, produk Yahudi". Waaaaawww! Aku terkejut mendengar itu. Sungguh radikal. Jujur, aku sosok yang pluralis, begitu mendengar hal semacam itu, ingin rasanya aku berteriak "Mengapa harus begitu.......? Mengapa? Mengapa? Mengapa??? Bukankah handphone yang aku dan yang kalian pakai juga merupakan buatan orang-orang Yahudi? Tabletmu? Laptopmu? dan barang-barangmu yang lain yang mungkin belum pernah aku melihatnya? Apakah jika kamu ada di jalan, lalu melihat orang terjatuh di depanmu, lalu sebelum kamu menolongnya, kamu akan lebih dulu menanyakan –Agamamu islam bukan?- begitukah???". Ahh.. tapi aku malas berdebat dengan kawanku di sini. Satu hal yang harus ku fahami dan ku garis bawahi bahwa aku harus lebih bisa mengamalkan sikap toleran dan saling menghargai di sini. Aku harus selalu ingat bahwa ini bukan Indonesia. Mungkin seperti itulah islam mereka, dan seperti inilah islamku. Mengertilah..

Ku akui islam di sini luar biasa. Tuhan tidak pernah kehabisan cara dalam menuntunku memahami sikap toleran dan saling menghargai, sehingga Dia melemparku ke negeri ini. Kali ini pemahaman tentang sikap toleran dan saling menghargai tak lagi sebatas teori yang hanya keluar di bibir, cos cos cossss.. tapi sedang ku jalani lewat realita. Aku mencoba belajar dari sikap keradikalan mereka, aku mengambil nilai positifnya, mengambil hikmahnya, selagi semua itu baik, maka aku mengikutinya, ya.. sekedar menghargai kultur yang ada, tapi aku tetap memegang prinsipku, dan aku punya batasan-batasan. Mungkin seperti inilah hidup. Ini belum seberapa, aku masih berada di antara orang-orang yang seiman denganku. Bagaimana jika sekarang aku berada di luar Indonesia, dan di sekelilingku orang-orang non-muslim? Mungkin seperti di Australia, Singapura, Eropa, Korea, atau Amerika. Akankah ceritanya jauh lebih dramatis? Entahlah.. 
Read more >> Read More..

Kuliner ala Thailand, guys!

Sabtu, 22 November 2014


Thailand, 22 November 2014

Salam...
Semoga kawan-kawan selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Amin..
Saatnya melanjutkan ceritaku kembali. Tak terasa sudah tiga minggu di sini, rasanya jemariku "gatal" jika tak menuliskan sesuatu yang belum pernah ku jumpai sebelumnya. Kali ini aku akan menulis tentang kuliner yang ada di sini, di Pattani Thailand. Hmm.. ini cocok bagi makhluk Tuhan pecinta kuliner. Jadi kalian harus tahu kuliner ala Thailand itu seperti apa sih? Sama nggak kayak kuliner di Indonesia? Langsung saja, cekidoooooooot...

Nasi Kerabu

Pertama, nasi kerabu. Nasi kerabu adalah nasi khas Thailand, jadi nasinya berwarna biru, ada juga yang berwarna putih, tapi kebanyakan warnanya biru. Kok bisa berwarna biru? Karena, menanaknya di bubuhi bunga telang. Bunga telang itu warnanya biru. Jadi, ketika menanak nasi dengan bunga telang, maka nasinya yang tadinya berwarna putih, berubah jadi biru. Bagus dech pokoknya.. kebetulan aku suka sekali warna biru, jadi seneng aja ketika makan nasi kerabu.. hehehe
Nasi kerabu itu banyak campurannya, ada ikan kering atau ayam goreng, kerupuk, serbuk kelapa, budu dan sayur-sayuran yang lain. Tahukah, sayur-sayurannya itu tidak masak lho, tapi mentahan. Tapi nggak bikin mati kok, justru menyehatkan, karena kandungan vitamin di dalamnya masih murni.Ini di bawah adalah wujud nyata dari nasi kerabu..
Pokoknya nasi kerabu itu.. sedaaap..! harganya juga murah, hanya 10 bath. Jika di konvert ke rupiah itu sekitar Rp. 3500,00. Murah kaaan...? :)


Nasi Minyak


Selanjutnya, nasi minyak. Ini juga tidak kalah sedap dengan nasi kerabu. Nasi minyak adalah nasi yang di campur dengan sayuran, rempah-rempah dan daging. Jadi, cara membuatnya, beras di goreng dengan minyak samin, sebelum akhirnya di rebus bersama rempah-rempah dan sayur-sayuran. Biasanya nasi kerabu disajikan dengan ayam goreng. Sungguh sedaaap sekali.. J
Nah, biasanya aku dan kawan-kawanku di Pattani Thailand, membeli nasi minyak untuk sarapan pagi. Harganya 20 bath. Jika di konvert ke rupiah sekitar Rp. 7000,00. Ini makanan favoritku di sini, sob... :)

Tom Yam

Tom yam ini jika di Indonesia seperti sup, tapi ada bedanya. Ciri khas rasa tom yam itu pedas dan masam dengan menggunakan herbal wangi. Tom yam ini biasanya dimasak dengan serai, daun lima purut, halia, jus limau nipis, sos ikan dan cili yang dipenyek. Biasanya dicampuri ayam, udang, dan makanan-makanan laut. Akan lebih sedap lagi jika di campuri dengan sambal. Hmmm.. mantap dech pokoknya! Hehe..

Ayam Phet Ped

Ayam Pahet Ped ini masakan thailand yang ciri rasanya pedas. Bagi kawan-kawan yang tidak kuat pedas, hoo jangan coba-coba...
Cara pembuatannya menggunakan santan, lalu ayamnya di cincang. Hampir setiap makan siang, aku makan ayam phet ped, sob.. J
Ini juru masak di Vityasil School yang biasa masak ayam phet ped... namanya Kak Zah. Cantik kaaan? Sudah cantik, jago masak pula. Haha.. :p

Kui Jub

Kui Jub ini sangat sedap. Bisa dikatakan jika di Indonesia seperti mie ayam, tapi mie-nya berwarna putih dan ukurannya lebar. Lalu, ayamnya tidak disajikan lembut-lembut seperti mie ayam di Indonesia, tetapi disajikan dengan ukuran yang sedikit besar. Biasanya ditambah sayuran dan telor setengah bagian. Aku tahu kui jub karena suatu waktu aku dan Intan pernah diajak ustadz-ustadz di sini jalan-jalan ke kotanya Pattani. Kemudian pulangnya ditraktir makan kui jub di sebuah kedai. Sedap..sedaap.. J

Milo ice
 
Pasti kalian tidak asing dengan nama minuman susu ini. Yeah, Milo. Di Indonesia juga banyak d jual susu Milo. Di warung, di Mini Market, di Super Market. Nah, kalau di Thailand, Milo itu menjadi menu minuman utama lho...! apapun makanannya, dimanapun belinya, pasti di situ ada Milo. Biasanya ada dua pilihan, Milo ice atau Milo hot. Kalau aku sih lebih sering minum Milo ice. Apalagi kalau cuacanya lagi panas, begitu minum Milo ice, langsung maknyesss... orang jawa bilang "telake langsung teles..." hehehe...

Salad

Mungkin kalau di Indo salad itu juga banyak kita jumpai ya, tapi di sini saladnya mantap sekali sob...! cara pembuatan kuahnya itu mamakai kacang yang di lembutkan, lalu diberi air, gula, garam dan air cuka, sehingga rasanya manis, asin, dan masam. Biasanya di tambah sambal, jadi ada pedasnya. Setelah kuah saladnya sudah jadi, tinggal menambahkan telor, sayur-sayuran, tahu, ubi, ayam, dan lain-lain, Hmmmmm.. mantaaaaap!
Ini makanan favorit Intan lho... ;) 

Tepung Asyura

Hari Asyura adalah tanggal 10 Muharram. Nah, budaya di sini, setiap bulan Muharram pasti selalu mengadakan kegiatan masak besar. Nah, makanan utamanya adalah kueh Asyura, orang Thailand menyebut itu tepung Asyura. Rasanya manis dan kenyal. Tapi aku tak pandai membuatnya, bisa di bilang cukup ribet. Pada bulan Muharram kemarin, siswa-siswi dan seluruh ustadz ustadzah termasuk aku, melangsungkan acara masak besar, yang kebagian membuat tepun Asyura adalah siswa-siswi. Ini foto-fotonya...





Pisang Goreng


Pisang goreng di dini lain dengan pisang goreng di Indonesia. Kalau di Indonesia, pisang gorengnya besar-besar, kalau di Thailand pisang gorengnya ukurannya minimalis, kayak aku. Ahihii...

Rasanya manis, yaa hampir sama lah seperti pisang goreng di Indonesia.
Mungkin itu dulu yaaa sharing-ku seputar kuliner yang ada di Pattani Thailand, kita sambung lagi di lain kesempatan dengan cerita-cerita yang baru dan tema-tema yang baru pula. Tetaplah semangat menjalani hari-hari, jangan menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tak bermanfaat, teruslah mencari pengalaman yang banyak dalam hidup ini, tentunya pengalaman yang bernilai positif dong... oke???
Because, experience is the best teacher, guys!!! 

See you... :)
Read more >> Read More..